Wednesday, 15 June 2016

Jalur ku Kini

Billa seorang mencinta pastilah dia mempuanyai sebab,
Bilakah karena cantik, baik hati, kaya, keturunan orang terhormat
Atau karena dia seorang yang beragama baik.
Semua adalah anugerah dan aku tak mampu memaksamu memiliki semua.
Kita tak pernah meminta lahir dimana dan siapa orang tua kita.

Keterbatasan benda duniawi seharusnya bukan halangan kita tuk bersatu.
Ketakjubanku akan paras indahmu menghantarkan aku akan kebesaranya
Sekelumit kekuasaanya ada pada kita.
Andai di saat ini kau menyadarinya, tentu saja akan ada tantangan baru
Ketakutanku semua tlah kupasrahkan pada yang kuasa

Aku takan menghiba lagi padamu
karena
Aku tahu tuhanlah yang lebih tahu.
 Tentang dirimu, waktu yang tepat , serta hikmah yang masih tersembunyi itu.

Penantianku hampir menjelang puncaknya,
Saat airmata jatuh, ketika kening mencium tanah dan ketika itu pula aku tersadar
Kau adalah ciptaanya, kau ada dalam genggamanya.
Lalu apa yang kukejar selama ini? Ternyata hanya cangang tak berdaging.
Hanya tenaga yang terkuras, aku lupa bahwa tenaga ini seharusnya kugunakan untuk memuja engkau sang kuasa
Bukan makhluk yang tak berdaya.

Kekhilafanku  telah usai seiring terbangunya aku dari mimpi-mimpi lalu
Ketika lantunan – lantunanku mulai ter arah
Ketika tangisku ikhlas terjatuh ke tanah
Ketika aku mulai mendekati engkau yang seharusnya ku tuju.

Akulah Zakaria dan kelupaanku di masa silam


Wednesday, 8 June 2016

Edisi Ramadhan : Berharap Bersambut

judul : Berharap Bersambut

Ramadhan telah tiba
Alangkah riang bersambut datang
Bilamana ada waktu dan bulan yang paling kutunggu
Itulah dia Ramadhan.
Doaku cintaku berlabuh menuju langit bersatu dalam gelora yang tak mampu tergambar
Sejadah menghampar mengajak kepada ke kushyuan
Bayangmu saat ini hanyalah salasatu alasanku untuk menengadahkan tangan
Berdoa memohon ampunan atas semua kehilapan.
Waktu ini yang sedang kujalani hanyalah seberkas kisah di antara ribuan kejadian.
Apalah arti dari sebuah hajat bila masih mengambang di antara nol grafitasi.
Aku merindumu, maka sambutlah dan sempatkan aku tahun depan atau wafatkan aku husnul khotimah di specialnya bulanmu ini.
Izinkan doa setiap orang soleh mengiringiku dalam perjalananku menujumu.
Ada kalanya kata yang keluar dari tanganku dan mulutku menyakiti hati seseorang.
Sikapku mengganggu seseorang.
Dan kebutuhanku memaksa aku untuk berhutang.
Jangan biarkan aku terjegal karena ini.
Ikhlaskanlah hati mereka agar lancar penyambutanku pulang nanti.
Aku sangat kwatir dengan diriku sendiri. Aku sangat kuatir bagaimana diriku kelak?
Apakah cahaya atau kegelapan yang akan menemaniku di garis batas nanti?
Hal yang bersih mewangi atau hal yang busuk yang ku temui nanti?
Ketakutanku menjadi kala aku teringat akan dosa dan lemahnya aku untuk bersujud.
Adakah aku akan merasakan tanah yang pernah diinjak ayahku adam yaitu surga? Atau menjadi teman setan laknatulloh di neraka sana?
Aku sangat ketakutan…
Aku sangat ingin menatap wajahmu, jelas sejelas aku memandang rembulan purnama dilangit yang bersih berbintang.

Akulah Zakaria


Wednesday, 1 June 2016

Jalan Kerinduan

Kau lah rembulanku
Jantung hatiku
Hal ikhwal dalam suka duka
Alasan dalam hidup
Bergembiralah bidadariku, meski suram menghujam
Meski batin menjerit, meski haru membiru
Meski langit sekan runtuh
Karena tangan tuhan bisa berwujud apapun
Lihatlah lebih teliti, karena mungkin salasatunya adalah aku.
Akulah oase yang kau tuju
Bukan fatamorgana yang kau kejar
Akulah hujan yang menghapus ketandusan
Bukan gurun kering yang sedang kau pijaki.
Walau malam begitu larut, hidup tetaplah hidup
Waktumu istirahat telah tiba, tak usah terus berlari.
Adakalanya kau harus berbaring dan menatap bintang untuk mengetahui sejauh mana kau melangkah
Cintaku
Cintamu
Cinta kita
Akan seperti taman yang indah , taman yang dirindukan semua orang
Pertemuan kita takan sia-sia lagi, kesendirian telah usai karena perjalanan kita baru dimulai.


Dari aku Zakaria